BREAKING
  • Wisata pasar terapung muara kuin di Banjarmasin

    Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • Perayaan Cap Gomeh di kota amoy

    Singkawang adalah merupakan kota wisata di kalbar yang terkenal . salah satu event budaya yang selalu digaungkan untuk mempromosikan kota ini adalah event perayaan Cap Gomeh.

  • Sumpit Senjata Tradisional Suku Dayak

    Sumpit adalah salah satu senjata berburu tradisonal khas Suku Dayak yang cara menggunakannya dengan cara meniup anak damak (peluru) dari bilah kayu bulat yang dilubangi tengahnya.

  • Ritual Menyambut Tamu Suku Dayak

    Ritual ini di lakukan pada saat suku Dayak menyambut tamu agung dengan memberi kesempatan sang tamu agung untuk memotong bulu dengan Mandau

Adat & Budaya

Sejarah

Cerita Dayak

Latest Post

Jumat, 14 November 2014

5 Suku Paling Ditakuti Di Dunia

Berbagai macam suku tersebar ke seluruh penjuru dunia, dan berbagai macam tradisi dan budaya juga berbeda-beda setiap suku. Di Indonesia sendiri ada banyak sekali suku yang tidak terhitung jumlahnya. Di dunia ini pun juga terdapat suku yang bervariasi. Ada yang di ketahui ada juga masih masih belum di ketahui, ada suku yang di kenal luas ada juga suku yang masih belum banyak yang mengenalnya sehinngga belum terdefinisi secara mendetail mengenai adat tersebut. Namun, untuk beberapa suku yang telah di kenal oleh dunia, ternyata terdapat beberapa suku yang konon kabarnya merupakan suku yang di takuti di dunia. Apakah suku di Indonesia masuk di dalamnya ?
Suku yang di takuti ini merupakan sebuah suku yang di takuti karena di segani dan dihargai, namun ada juga di takuti karena suku tersebut terisolasi karena berbahaya atau di takuti karena sikap dan tindakan yang selalu mengancam orang lain. Definisi di takuti di sini bermacam-macam tergantung setiap individu yang menilainya. Berikut merupakan 5 Suku Paling di Takuti Di Dunia :

#1. Indian
Mungkin Indian adalah suku yang paling familiar di telinga kita. Saya pribadi mulai mengenal Indian dari film-film waktu masih masa kanak-kanak. Indian merupakan Salah satu suku yang paling di takuti. Suku Indian di takuti karena suku ini di segani oleh masyarakat dunia , terlebih suku ini adalah suku asli yang ada di Amerika. Selain itu Suku dapat memanggil arwah dengan menggunakan badan mereka dengan sebuah lagu atau tarian. Saya rasa ini mirip dengan kuda lumping ? namun kenapa suku jawa tidak di takuti ya ? entahlah. Selain itu juga pemanggilan roh ini dapat menyembuhkan orang.

#2. Dayak
Wah , ternyata suku di Indonesia masuk sebagai salah satu suku yang di takuti di dunia. Suku dayak sangat di segani di Indonesia karena pulau kalimantan termasuk Indonesia, malaysia dan burnai darusalam berpendudukan suku dayak , termasuk juga filipina, thailand dan burma ( walau berbeda nama). Selain itu juga suku dayak memiliki hal mistis yang sangat di takuti oleh orang d dunia seperti Pangkalima burung sang kesatria dayak, mandau terbang yang dapat menebas kepala tanpa rasa kasihan, Balian,  Pemanggil arwah untuk penyembuhan dan lain-lain. Suku dayak kian mendunia setelah peristiwa sambas dan sampit yang kini menjadikan suku dayak menjadi salah satu suku yang di takuti di dunia. Terlepas dari hal-hal mistis tersebut, ternyata suku dayak merupakan salah satu suku paling ramah di Indonesia walau Jawa dan Sunda masih menjadi yang paling ramah. Jangan buat orang Dayak mengamuk yaa :)

#3. Maya
Anda pasti sering mendengar suku maya bukan ? Terlebih saat meledaknya kabar kiamat oleh kalender maya , yang menyebabkan suku maya menjadi sangat di kenal oleh dunia. Suku maya merupakan suku yang berada di mexico dan Gautemala. Fakta dari suku maya adalah mereka merupakan suku yang sangat expert dalam bidang perhitungan. Dalam suku maya terdapat orang bijak atau tetua Maya atau Toltec yang memiliki kemampuan yang tinggi di antaranya dia dapat memangil hujan, memiliki kekuatan dalam perang, dan konon kabarnya juga dapat memunculkan matahari dengan melakukan persembahana berupa jantung manusia yang berasal dari suku maya. Entah benar atau tidak, hal itulah yang menyebakan suku maya menjadi suku yang di takuti di Dunia

#4. Gypsi
Suku Gypsi merupakan sebuah suku yang tidak memiliki rumah. Suku ini selalu berpindah-pindah, dan bisa saja suku ini menetap sementara di Indonesia. Gypsi suku yang tidak menyukai pertengkaran dan pertikaian, namun bukan berarti meraka tidak bisa marah. Jika meraka marah bisa saja nyawa yang akan di ambil oleh mereka. Biasanya meraka akan mengeluarkan sebuah mantra yang berbau kematian " Lamia va lua sufletele lor, ?i le pun în locul s?u în cazul în care sufletele nu va fi din nou reîncarnare". Jadi berhati-hatilah, selalu jaga sikap dan perkataan.

#5. Kiyuku
Suku Kikuyu adalah sebuah suku yang berada di dataran afrika. Suku ini di takuti karena Kikuyu Dancer. Kukuyu dancer di percaya mengandung unsur magis yang dapat mengambil nyawa manusia. Di percaya bahwa Kukuryu sebagai santet , ada juga yang mengatakan bahwa tarian ini dapat menurunkan hujan.

Itulah 5 Suku Paling di Takuti Di Dunia. Menurut Anda di antara kelima suku tersebut , mana yang paling di takuti jika berbicara unsur magis nya ? Coret-coret pendapat anda pada kolom komentar di bawah ini ya :). Tapi saran saya sih tidak perlu kita takut, namun harus tetap menjaga etika dalam berbicara dan tindakan kepada suku-suku tersebut.


Senin, 30 Juni 2014

Bukit Batu, Tempat Pertapaan Tjilik Riwut'

Disalin Oleh : John Kenedy Bucek [BHT'02]

Berada di atas Bukit Batu yang terletak di tengah hutan Kalimantan (Tengah), seperti berada di tempat yang mustahil. Berada di atas Bukit Batu dengan segera orang akan membayangkan dari mana batu-batu besar itu berasal, karena tidak mungkin batu-batu itu berasal dari Sungai Katingan yang jaraknya cukup jauh, yaitu sekitar 15 Km2. Kalau batu-ba...tu itu bekas dari puing-puing kerajaan, di Kalimantan Tengah tidak ada kerajaan yang berdiri karena merupakan daerah baru yang di buka dari hutan belantara. Berada di Bukit Batu seperti berada di satu tempat yang mustahil terjadi. Karena Bukit Batu sulit dijelaskan melalui fenomena alam dan realitas historis, setidaknya seperti Borobudur misalnya, sehingga Bukit Batu menghadirkan sistem keyakinan tersendiri bagi masyarakat setempat dan mempunyai legenda untuk meneguhkan keberadaan Bukit Batu, yang sekaligus, legenda itu, berfungsi sebagai legitimasi.

Nama Bukit Batu bukanlah nama asing bagi orang Kalimantan, setidaknya untuk Kalimantan Tengah. Memang, Bukit Batu terletak di desa Kasongan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Kisah yang bergulir pada masa silam, seorang yang bernama Burut Ules tinggal di desa Tumbang Linting. Burut Ules dikenal sebagai seorang yang mempunyai kemampuan spritual tingkat tinggi, yang dalam bahasa setempat disebut sebagai bakaji. Seperti halnya di Jawa ada kisah Djaka Tarub yang mengambil selendang salah satu bidadari yang sedang mandi di telaga kemudian mengawini bidadari tersebut. Kisah Burut Ules menyerupai hal itu. Dia, Burut Ules, mengambil besaluka yang di Jawa dikenal dengan nama jarik. Bukan hanya sekali dia melihat tujuh dara yang turun dari langit dan mandi di telaga yang berada di tengah hutan belantara yang sedang ia persiapkan sebagai tempat tinggal. Ketika dengan sengaja Burut Ules menunggu sambil sembunyi disemak-semak, tujuh dara yang dia tunggu turun dari langit menuju telaga setelah melepaskan seluruh pakaian semuanya mandi di telaga. Burut Ules tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, yang mungkin tidak akan datang lagi, pada saat para dara itu menginjak tanah untuk mengenakan pakaian, Burut Ules muncul dari semak-semak langsung memeluk buah hatinya, yang tak lain bungsu dari para bidadari.

Singkat kisah, Burut Ules lalu mengawini dara bungsu itu dan untuk menjaga agar tidak kembali ke tempatnya, Burut Ules menyembunyikan pakaian dara yang dipersunting itu. Sampai pada klimaksnya, setelah keduanya bahagia mempunyai seorang anak, Burut Ules tidak bisa menerima kehadiran seorang anak muda, mamut menteng, yang dikenalkan istrinya sebagai saudaranya, lantaran terlalu sering pergi berduaan mandi di telaga dengan meninggalkan anaknya yang masih bayi, akhirnya Burut Ules membunuh pemuda itu. Mengerti akan hal itu, istri Burut Ules marah dan pergi meninggalkan suaminya dengan membawa serta anak laki-lakinya. Sebelum pergi istrinya sempat menyampaikan pesan, bahwa kelak kalau dewasa anak laki-lakinya akan kembali ke alam ayahnya karena dia tidak bisa tinggal di alam ibunya.

Putri ketiga Tjilik Riwut, Theresia Nila Ambun Triwati Suseno dalam bukunya yang berjudul "Manaser Panatau Tatu Hiang, Menyelami Kekayaan Leluhur" menutup kisah Burut Ules dengan menulis:

"Suatu hari di Teluk Derep, Tumbang Kasongan, terdengar suara gemuruh halilintar memekakkan telinga. Petir kilat sambar menyambar. Saat itu sebuah batu besar diturnkan dari langit. Diyakini bahwa anak Burut Ules yang telah gaib bersama istri pertamanya, saat itu telah dewasa. Sesuai janji, apabila telah dewasa ia akan kembali ke alam bapaknya bertempat tinggal, maka janji itu telah ditepati. Batu yang diturunkan dari langit kemudian terkenal dengan nama Bukit Batu dan diyakini sebagai tempat kediamannya, walau tak terlihat dengan mata jasmani, namun ia ada di sana sebagai Raja dan penguasa daerah tersebut…"

Sebagaimana legenda yang tidak menunjuk waktu peristiwa. Legenda Burut Ules dan Bukit Batu juga tidak bisa dilacak waktu kejadiannya, tetapi diyakini sebagai sungguh terjadi. Kisah cerita itu mengidentifikasi "Bukit Batu" sebagai makhluk yang mempunyai jenis kelamin laki-laki.

Dari Bukit Batu inilah kisah Tjilik Riwut mengawali jejak. Riwut Dahiang, ayah Tjilik Riwut, menginginkan mempunyai seorang anak laki-laki sebab setiap anaknya lahir laki-laki selalu meninggal. Di Bukit Batu Riwut Dahiang bertapa, dalam bahasa setempat disebut sebagai balampah untuk memohon kepada Hatalla (Tuhan) supaya mendapatkan anak laki-laki. Wangsit yang diperoleh dalam pertapaan itu ialah, bahwa anak laki-laki Riwut Dahiang yang akan dilahirkan kelak akan mengemban tugas khusus untuk masyarakat sukunya.

Tjilik Riwut dalam masa pertumbuhannya hampir tidak pernah melupakan Bukit Batu. Dalam usia yang masih belia, Tjilik Riwut biasa pergi meninggalkan teman bermainnya untuk menuju Bukit Batu, yang jaraknya dari tempat tinggalnya sekitar 15 Km. Tjilik Riwut berjalan menuju Bukit Batu untuk melakukan apa yang dulu pernah dilakukan oleh ayahnya, Riwut Dahiang.

Di Bukit Batu, seperti apa yang pernah dilakukan ayahnya, Tjilik Riwut melakukan apa yang disebut sebagai balampah (semedi, bertapa). Di tempat yang dianggap keramat itu Tjilik Riwut bersemedi untuk merenungkan kehidupannya. Dalam bertapa itu, lagi-lagi mendapat wangsit seperti yang pernah dialami oleh ayahnya. Wangsit yang pertama diperoleh ialah, supaya Tjilik Riwut menyeberang laut untuk menuju Pulau Jawa. Hampir sulit wangsit itu dilaksanakan, karena pada jaman itu, transportasi di Kalimantan masih sangat lemah untuk menuju Jawa, sehingga bisa dikatakan mustahil, apalagi harus ditempuh dari desa Kasongan di mana Tjilik Riwut lahir dan tinggal. Untuk pergi ke Banjarmasin yang terletak di pulau yang sama dengan Kalimantan, pada waktu itu bukan main susahnya.

Bukit Batu sekarang dikenal dengan nama “Tempat Pertapaan Tjilik Riwut”. Letak Bukit Batu dari kota Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah sekitar 40 Km. Namun dari Kabupaten Katingan hanya sekitar 10 Km. Untuk menunu ke Bukit Batu dari Palangka Raya bisa menggunakan transportasi umum atau mobil pribadi. Hanya karena transportasi umum tidak terlalu sering, sehingga terasa lama dalam menunggu. Sebagai salah satu obyek wisata Kalimantan Tengah umumnya, dan di Kabupaten Katingan khususnya, belum dikelola secara memadai. Terlepas sebagai obyek wisata, Bukit Batu memilik “jejak sejarah” terhadap terbentuknya Kalimantan Tengah.

"Isen Mulang Petehku"

Sabtu, 28 Juni 2014

Selamat Gawai Dayak ke-X Nosu Minu Podi tahun2014

Adil Ka' Talino Bacuramin Ka' Saruga Basengat Ka' Jubata

Gawai Dayak ke-X Nosu Minu Podi tahun 2014 Kabupaten Sanggau, secara resmi dibuka oleh Ketua Umum Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Barat, Cornelis di Rumah Adat Dayak Dori' Mpulur Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau, Kamis (26/6). Peresmian ini di hadiri oleh Bupati Sanggau Paolus Hadi dan Wakil Bupati Sanggau Yohanes Ontot dan sejumlah pimpinan Muspida, SKPD dan Muspika Se-Kabupaten Sanggau.

Dalam sambutannya, Cornelis mengaku sedih mendengar perusahaan-perusahaan yang ada di Sanggau hanya menyumbang Rp.10 Juta untuk Gawai Dayak Tersebut. Padahal menurut dia, selama ini para pengusaha tersebut munggunakan tanah Dayak. "Datang dari sana (Jawa) hanya bawa barang dua biji. Dia punya investasi ratusan miliar dari Bank, kenapa dana CSR-nya tidak dikeluarkan untuk membangun mental orang Dayak. Ini adalah pembangunan mental, REVOLUSI MENTAL meroba pola pikir orang Dayak di kabupaten Sanggau ini, kenapa dia takut investasi. Apa dia tidak takut sawitnya disuntik orang Dayak, setiap malam 10 pokok, mampus dia" kata Cornelis.

Oleh karena itu, lanjut Cornelis dirinya meminta orang-orang Dayak yang ada di kabupaten Sanggau jangan lagi menyerahkan tanah-tanah Dayak kepada pengusaha. "Kita di kampung dia usir, Saya bukan provokator, bukan, tapi ini adalah kenyataan" tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama dia mendorong pembangunan daerah yang maju dan terdepan. Secara khusus dia memotivasi agar masyarakat Dayak mampu bersaing dalam segala hal dengan daerah atau provinsi lainnya. Pada acara Gawai Dayak ini juga Cornelis menyumbang uang sebesar Rp.50 juta yang di ambil dari uang operasional gubernur untuk panitia Gawai Adat Dayak 2014.

Bupati Sanggau, Paolus Hadi dalam sambutannya mengajak masyarakat Sanggau turut mensukseskan pembangunan daerah. Seperti halnya Sanggau yang mengusung tujuh Brand Image pembangunan yaitu Sanggau Tertib, Sanggau Bersih, Sanggau Sehat, Sanggau Pintar, Sanggau Terang, Sanggau Manjur, Sanggau Budiman.

"Tujuh brand image ini adalah tujuan kita bersama yang harus kita wujudkan, kita harus memiliki keyakinan untuk mewujudkan ini. Tujuan brand image ini akan menjadi ciri dari Sanggau, jadi ketika orang masuk ke Sanggau dia akan mengingat tujuh brand image ini" katanya.

Sementara itu ketua DAD kabupaten Sanggau, Yohanes Ontot menyampaikan, moment Gawai Dayak Nosu Minu Podi merupakan bentuk syukur kepada Tuhan karena telah dilimpahkan rezeki yang bersumber dari alam. Event tahunan yang kerap dilaksanakan pada tanggal 7 bulan 7 ini dikatakannya sedikit bergeser dari rencana. Berdasarkan hasil keputusan bersama Dewan Adat Dayak Se- Kabupaten Sanggau dengan pertimbangan antara lain, pada bulan Juli mendatang Indonesia akan menghadapi pemilihan Presiden dan akhir juni umat Islam akan memasuki bulan puasa.

Gawai Dayak sendiri merupakan tradisi nenek moyang Suku Dayak yang harus dipertahankan dan di kembangkan. Dengan moment Gawai Dayak yang mengusung tema "MElalui Gawai Dayak Nosu Mino Podi kita Dukung Tujuh Brand Image Kebupaten Sanggau" ini, Ontot mengajak masyarakat Dayak untuk melestarikan adat budaya Dayak yang tumbuh dan berkembang agar tidak kehilangan jati dirinya sebagai Orang Dayak.

Selamat Gawai Dayak ke-X Nosu Minu Podi tahun2014

Salam Budaya

Yohansen

sumber : kapuas.co

Rabu, 25 Juni 2014

Sejarah Apokayan

Sejarah Apokayan
Apokayan (Apo Kayan) berasal dari nama sungai besar Kayan. Dalam wilayah administratifnya saat ini termasuk ke dalam Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur. Kawasan ini terbagi menjadi kecamatan Kayan Selatan, Kayan Hulu, Kayan Hilir dan Sungai Boh. Beberapa desa yang telah dikenal para wisatawan antara lain Long Ampung, Long Nawang, dan Data Dian. Apokayan memiliki hubungan erat dengan sejarah masyarakat Dayak. Dahulu, tempat ini ditemukan oleh orang-orang Dayak Kenyah asal Lundaye pada abad ke-16, untuk kemudian menjadikannya sebagai pusat perkampungan suku dan anak suku (uma) Dayak Kenyah. Pada abad ke-18, setelah berkembang pesat masyarakat Apokayan mulai eksodus dan menyebar ke wilayah Kabupaten Kutai menyusuri Sungai Mahakam, memasuki daerah Berau, terus ke hilir Sungai Kayan menuju Tanjung Peso, Tanjung Palas dan Tanjung Selor (Thomas Djuma, 2009).
Hutan dan Masyarakat Apokayan
Bagi masyarakat Apokayan, hutan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupannya. Bagaikan air dengan ikan. Ikan tidak bisa hidup tanpa air, ikan bernafas dan mencari makanan dalam air. Begitu juga mereka, tidak bisa hidup tanpa hutan yang lestari. Hampir semua kebutuhan mereka seperti makanan, obat-obatan, bahan bangunan, sumber air, dan penghasilan bergantung pada ekosistem hutan (Uluk et al., 2001).  Muvut adalah istilah yang lazim mereka sebut jika pergi ke hutan untuk mengumpulkan tumbuhan diselingi dengan berburu satwa. Jangka waktunya bisa sehari hingga berbulan-bulan. Hasil dari muvut dapat dijual untuk mendapatkan uang. Dalam bertahan hidup, mereka juga melakukan perladangan atau bercocok padi sawah (Dephut, 2002). Kehidupan masyarakat adat tersebut merupakan salah satu hal unik yang sangat menarik untuk ditelusuri wisatawan, terutama para peneliti. Banyak hal yang dapat mereka telusuri mulai dari sumber daya alam hayati, sosial budaya masyarakat dayak hingga pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki.
Destinasi Budaya, Sejarah, dan Wisata Alam
Apo Kayan memiliki keunikan, keindahan, dan nilai kekhasan dalam kekayaan alam, budaya, dan kesenian tradisional yang dapat dijadikan destinasi (tujuan) kunjungan wisatawan. Menurut Undang-Undang No.10 tahun 2009, suatu daerah bisa dijadikan destinasi (tujuan) wisata jika di dalam wilayah administratif kawasan tersebut terdapat daya tarik wisata (seperti budaya, peninggalan arkeologi bersejarah maupun panorama alam), fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan. Berdasarkan definisi tersebut, maka dataran tinggi Apokayan memenuhi syarat untuk dijadikan tempat destinasi wisata. Namun demikian, beragam sarana dan prasarana harus ditambahkan untuk mengoptimalkan hasil yang diperoleh dari objek wisata tersebut. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III setidaknya telah mencatat beberapa objek wisata budaya dan wisata alam yang patut dikunjungi. Beberapa diantaranya sebagai berikut:
1.Batu Irang Dau
Dahulu sekitar tahun 1900, ketika kepercayaan masyarakat adalah Malang Ta’u (Animisme), batu keramat lepo jalan ini dipercaya dapat melindungi masyarakat dari segala bencana. Pada tahun 1902, masyarakat lalu membawa batu Irang Dau tersebut ke sebuah gunung (sekarang disebut gunung Irang Dau). Sebuah tunggul didirikan beberapa meter di tempat tersebut, lalu Batu Irang Dau diletakkan diatasnya. Awalnya batu itu berada di Long Anye sebelum akhirnya dipindahkan ke desa Metulang. Long Anye merupakan daerah asal masyarakat desa Metulang yang kini bermukim di Long Ampung. Menurut cerita, dahulu masyarakat percaya pada batu tersebut ketika roh yang ada pada batu tersebut pernah merasuki orang yang menemukannya dan berkata “Inilah aku. aku ingin menolong masyarakat bak dalam menghindarimu dari wabah penyakit, bencana kelaparan dan aku akan membuat bagimu kemarau untuk membakar ladang dan aku akan melindungi masyarakat dari segala bencana. Namaku adalah Irang Dau”.
2.       Monumen Perjuangan Apokayan.
Monumen ini berdiri kokoh di desa Nawang Baru kecamatan Kayan Hulu. Sebuah monumen perjuangan yang menggambarkan kegigihan masyarakat Apokayan dalam mengusir penjajah Belanda. Pada Monumen tersebut terdapat nama-nama para pejuang Apokayan yang terlibat langsung dalam perjuangan. Kala itu, masyarakat berhasil mengusir tentara Belanda, KNIL, dan KL dari Long Nawang sampai ke Long Boi sebelum penyerahan kedaulatan dari tangan pemerintah Hindia Belanda kepada pemerintah RI di penghujung  bulan desember 1949. 17 Agustus 1950 adalah hari bersejarah bagi masyarakat setempat karena untuk kali pertama sang saka merah putih berkibar di bumi Apokayan. Suasana nasionalisme dan semangat patriotisme sangat terasa hingga saat ini pada masyarakat setempat, baik tua maupun muda di setiap kali upacara kemerdekaan berlangsung.
3.       Kuburan Tua
Tidak jauh dari monumen perjuangan Apokayan, tepatnya dekat bandara Long Nawang terdapat kuburan Lencau Ingan. Seorang tokoh adat Apokayan yang telah menyatukan masyarakat setempat untuk melawan penjajahan Belanda di wilayah ini. Bentuk makamnya sangat unik dan menarik, namun belum dikelola secara maksimal untuk dijadikan destinasi wisata. Selain kuburan Lencau Ingan, ada pula Kuburan Tua Uyang Lahai. Kuburan ini merupakan leluhur masyarakat suku Dayak Kenyah. Kuburan ini terletak di Hilir Desa Data Dian dan sudah mulai dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Malinau dengan membangun pondok sebanyak dua buah.


4.       Sungai Kayan
Bagi yang menyukai petualangan, terutama penikmat olahraga arum jeram, maka sungai Kayan adalah tempatnya. Sungai besar ini memiliki lintasan yang panjang dan berkelok-kelok seperti ular. Sepanjang penelusuran sungai Kayan, di kiri-kanannya terdapat hutan hujan tropis dataran tinggi. Apabila beruntung, kita dapat melihat jenis primata endemik, monyet, biawak, hingga burung Enggang khas Kalimantan. Ada banyak giram yang terkenal di sungai ini, Seperti Giram Ben yang berada di hulu sungai Kayan, dekat desa Lidung Payau. Giram ini terdiri dari tiga tingkat yang apabila hujan lebat maka debit air semakin banyak membuat arus semakin deras. Adapula Giram Perian di jalur desa Long Nawang menuju desa Data Dian. Giram ini jika arusnya kecil sangat cocok untuk wisata arum jeram. Rute untuk wisata arum jeram yang aman adalah jalur dari desa Long Ampung menuju  Data Dian. Setelah desa Data Dian terdapat giram yang tidak bisa dilalui masyarakat setempat karena berbahaya. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai “Jeram Embun”. Arus deras yang bergulung-gulung mampu menelan benda apa saja sehingga membutuhkan peralatan khusus dan kemampuan tinggi untuk menyelusurinya. Arus deras itu tercatat dengan grade ½ atau tingkat kesulitan di atas rata-rata. Pada beberapa bagian tidak bisa dilewati karena terlalu curam dan tinggi sehingga air jatuh menimbulkan suara bergemuruh serta melontarkan percikan air seperti embun. Mungkin itu sebabnya masyarakat setempat menyebutnya sebagai Jeram Embun. Selain Arum Jeram, kita juga dapat melakukan trekking menelusuri hutan dataran tinggi Apo Kayan sambil menikmati keanekaragaman flora dan fauna endemik.
5.       Seni dan Budaya
Selain berwisata sejarah dan menikmati indahnya panorama alam, wisatawan dapat menikmati seni, budaya dan tradisi kehidupan tradisional masyarakat setempat. Seperti kerajinan ukiran, anyaman, nyanyian, musik khas Kalimantan, hingga tarian-tarian yaitu Tarian Hudok, Tarian Gerak Sama, dan Tarian Perang. Jika musim bunga tiba, wisatawan juga dapat mengikuti prosesi kegiatan panen madu yang melibatkan banyak orang di desa Data Dian.
Akses Menuju Lokasi
Untuk mengakses tempat ini dapat menggunakan pesawat Susi Air selama kurang lebih 1 jam dengan rute penerbangan Samarinda-Long Ampung, atau Tarakan-Long Ampung. Jika melalui kota Malinau dapat menggunakan rute Malinau-Long Ampung, Malinau-Long Nawang, dan Malinau-Data Dian. Jika menaiki pesawat yang mendarat di Long Ampung, perjalanan dapat dilanjutkan menuju Long Nawang Kayan Hulu dan Data Dian Kayan Hilir menggunakan jasa perahu ketinting (bermuatan 6-8 orang). Biaya yang diperlukan untuk Long Ampung-Long Nawang sekitar 500.000,-/ketinting, sedangkan Long Ampung-Data Dian sekitar 3.500.000,-/ketinting.
Strategi Pengembangan Wisata
Melihat banyaknya potensi objek wisata di tanah Apokayan tersebut, maka usaha pengembangan mutlak diperlukan untuk mengoptimalkan nilai jual produk wisata. Suatu obyek wisata akan memiliki kualitas produk yang baik apabila para pelaku wisata yaitu pemerintah, pengelola wisata, dan masyarakat memiliki kesiapan didalamnya (Departemen Pariwisata & Ekonomi Kreatif, 2002). Salah satu bentuk kesiapan dari pemerintah adalah membuat akses menuju destinasi wisata tersebut menjadi mudah. Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, hingga saat ini akses menuju lokasi hanya dapat ditempuh dengan pesawat Susi Air (kapasitas 12 orang) serta MAF (4-5 orang). Oleh karena itu, salah satu cara untuk menaikkan laju wisatawan adalah meningkatkan layanan rute penerbangan ke wilayah Long Ampung, Long Nawang dan Data Dian. Hal lain yang perlu dipersiapkan juga adalah sarana prasarana di masing-masing objek wisata. Ada beberapa objek wisata seperti kuburan Uyang Lahai di Data Dian yang telah dibangun shelterdan jalan menuju lokasi. Namun demikian, masih banyak objek wisata lain yang belum dilengkapi oleh pihak pengelola wisata. Sarana lain yang penting untuk segera dilengkapi adalah fasilitas telekomunikasi dengan tarif yang terjangkau. Di sisi lain kesiapan masyarakat juga mesti ditingkatkan. Keterlibatan masyarakat lokal dapat dilakukan dengan beberapa bentuk seperti menjadi guide/pemandu wisata, bekerja sebagai karyawan pada objek wisata, atau menyediakan jasa akomodasi, konsumsi, dan transportasi (Drumm dan Alan, 2002).

Sumber : kompasiana.com

Senin, 23 Juni 2014

Jokowi di Rumah Radakng Pontianak

Hari ini kita sebagai Masyarakat Dayak merasa sangat terhormat dengan kehadiran Calon Presiden No.2 Jokowi di Rumah Radakng (Betang) Pontianak paling tidak suara kita juga diperhitungkan dalam pemilihan presiden 2014.

Capres Joko Widodo berkampanye di depan ribuan pendukungnya di kota Pontianak, Kalimantan Barat. Dalam kesempatan itu, Jokowi menyinggung soal masalah perbatasan.

"Di Kalimantan Barat ini berbatasan dengan Serawak ya? Nanti pemerintah pusat bekerja sama dengan gubernur akan kita bangun perbatasan agar tidak kalah dengan Malaysia, tidak kalah dengan Serawak," kata Jokowi saat berkampanye di Rumah Adat Radakng, Kota Pontianak, Kalbar, Senin (23/6/2014).

"Wajah saya ndeso, tapi otaknya internasional," imbuh Jokowi yang disambut riuh pendukungnya.

Sebelumnya saat tiba di lokasi, Jokowi yang mengenakan kemeja kotak-kotak dipakaikan topi kebesaran adat Topi Enggang. Wujud topi itu menyerupai paruh burung lengkap dengan bulu-bulunya.

Selain itu, Jokowi juga disambut oleh Gubernur Kalbar Cornelis serta Tarian Penyambutan Suku Dayak, Tarian Ngajat.

Kami sebagai Admin Cerita Dayak sangat mengapresiasikan kunjungan Jokowi di Rumah Radakng Pontianak untuk meminta dukungan sebagai calon presiden 2014-2019 kepada Masyarakat Dayak.

Mengenai pilihan Cerita Dayak tetap netral. Siap pun yang terpilih  menjadi pemimpin bangsa ini kita berharap ada perubahan yang lebih baik bagi Borneo.


Salam Budaya


Yohansen Borneo

Sumber : detik.com

Pang Suma

Pang Suma adalah seorang tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia yang bergerilya di Kalimantan Barat. Pang Suma dikenal sebagai pejuang melawan penjajah Jepang. Hingga kini, tokoh pahlawan yang bernama Pangsuma, belum ada satu pun yang mengetahui di mana dan kapan ia lahir. Namun menurut penuturan cucu pengawal Pangsuma, Sera, atau lebih dikenal dengan Pang Ronda, menuturkan bahwa Pangsuma berasal dari dusun di Kecamatan Meliau bernama Nek Bindang. Pangsuma merupakan nama panggilan, dalam Bahasa Meliau merupakan penggabungan dua suku kata yakni Pang berarti bapak dan Suma adalah nama anaknya.
Pangsuma berjuang membebaskan Meliau dari penjajah Jepang, walaupun mati di tangan teman seperguruannya yang berkhianat karena bergabung bersama Jepang. Pang Ronda mengungkapkan cerita ini dari orang tua dan kakeknya, bahwa perjuangan Pangsuma memang benar-benar gigih.
"Pangsuma saat menginjak dewasa, sama dengan masyarakat lainnya berada di bawah kekuasaan Jepang yang mengharuskan para kaum laki-laki harus bekerja untuk Jepang (budak) membawa batang kayu berukuran besar dan pada saat itu banyak rakyat yang sering dipukul serta perlakuan lainnya yang tidak manusiawi bila tidak bekerja secara maksimal.
Latar belakang itulah, Pangsuma melawan ketidakadilan muncul dari hati dan mendapat dukungan dari rakyat. "Kita bekerja mati-matian untuk Jepang dan kita nanti mati juga untuk Jepang, dari pada kita mati untuk mereka kenapa kita tidak membunuh Jepang," tutur Pang Ronda menirukan cerita kakeknya.
Rasa ingin membebaskan dari belenggu penjajah saat itu hanya dengan berbekal keberanian dan sebilah Sabur (sejenis mandau/parang panjang), Pangsuma berhasil membunuh pimpinan Jepang di tiga lokasi yakni Sekucing Balai Bekuak perbatasan Kabupaten Ketapang dan Kecamatan Meliau Kabupaten Sanggau, kedua di Desa Kunyil Kecamatan Meliau dan ketiga di pusat Kota Meliau sendiri yang merupakan basisnya Jepang.
Konon menurut cerita, seseorang dapat dikatakan jago atau pahlawan bila dapat membunuh musuh paling banyak serta membawa pulang kepalanya sebagai bukti. Karena di rasa Pangsuma merupakan satu sosok yang dapat membahayakan bagi Jepang, maka Jepang membayar teman seperguruan Pangsuma (pengkhianat) untuk membunuh Pangsuma, yakni ditembak dengan buntat kuali.
Pangsuma ditembak bersama adiknya, sang adik selamat namun Pangsuma meninggal dunia di bawah jembatan, yang saat ini berlokasi disebelah dermaga Meliau dan tidak jauh dari tempat itulah Pangsuma dimakamkan. Kini berdiri sebuah tugu yang diberi nama Tugu Pangsuma.

 

Wisata

BERITA SEPUTAR KALIMANTAN

Kuliner

Copyright © 2009-2013 Cerita Dayak. All Rights Reserved.
developed by CYBERJAYA Media Solutions | CMS
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube